CARAPANDANG.COM – Di tengah krisis global dan ketidakpastian zaman, bulan Ramadhan tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai ritual tahunan penahan lapar, melainkan harus diinsafi sebagai madrasah eskatologis yang mempersiapkan ketangguhan mental dan spiritual umat dalam menghadapi huru-hara akhir zaman.
Melalui lensa riwayat-riwayat klasik dalam kitab “al-Fitan” karya Imam Nu’aim bin Hammad, kita diajak untuk melihat Ramadhan sebagai momentum krusial munculnya isyarat-isyarat besar −seperti suara ledakan (haddah) maupun guncangan di pertengahan bulan− yang menuntut kesiapan bekal pangan, kemandirian fisik, serta kemantapan tauhid.
Setiap kali hilal Ramadhan tampak, setiap kali itu pula umat Islam menyambutnya dengan kegembiraan. Namun, di tengah hiruk-pikuk persiapan fisik berupa hidangan berbuka dan pakaian lebaran, seringkali kita melupakan satu dimensi krusial dari bulan mulia ini: Ramadhan sebagai madrasah kewaspadaan diri menghadapi huru-hara akhir zaman.
Dunia saat ini sedang berada dalam fase yang oleh para ulama disebut sebagai fase Mulkan Jabariyan (kepemimpinan otoriter yang memaksakan kehendak). Kita menyaksikan ketidakpastian global, gejolak di tanah Syam, hingga ancaman krisis pangan yang nyata. Ramadhan hadir bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum bagi kita untuk menata kekuatan lahir dan batin guna menghadapi fitnah-fitnah besar yang telah diperingatkan oleh lisan mulia Rasulullah SAW.