“Jika engkau mendapatinya, maka perbanyaklah persediaan makanan semampumu.” (Al-Fitan No. 634).
Pesan ini sangat relevan dengan konteks kekinian. Kita melihat bagaimana rantai pasok dunia sangat rapuh. Sedikit saja konflik di Timur Tengah atau Eropa terjadi, harga pangan melonjak. Ramadhan yang melatih kita untuk lapar sebenarnya adalah latihan mental agar kita tidak kaget saat masa sulit (sanatun juu’) itu tiba.
Selain persiapan pangan, riwayat-riwayat tersebut memperingatkan adanya konflik perebutan harta di wilayah Sungai Eufrat yang menyusut. Ka’ab rahimahullah berkata:
يَكُونُ نَاحِيَةَ الْفُرَاتِ فِي نَاحِيَةِ الشَّامِ أَوْ بَعْدَهَا بِقَلِيلٍ مُجْتَمَعٌ عَظِيمٌ فَيَقْتَتِلُونَ عَلَى الْأَمْوَالِ، فَيُقْتَلُ مِنْ كُلِّ تِسْعَةٍ سَبْعَةٌ
“Akan terjadi di sisi Sungai Eufrat, di daerah Syam atau setelahnya sedikit, suatu kumpulan besar pasukan yang berperang memperebutkan harta, maka terbunuhlah dari setiap sembilan orang sebanyak tujuh orang.” (Al-Fitan No. 971).
Konteks saat ini menunjukkan bahwa wilayah Syam (Palestina, Suriah, Lebanon) kian membara. Perebutan sumber daya dan kekuasaan kian nyata. Riwayat ini mengingatkan kita bahwa di tengah kekacauan dunia nanti, manusia akan terpecah menjadi tiga kelompok: mereka yang mengejar kekuasaan dengan tirani (jabarut), mereka yang mengejar dengan pembunuhan, dan mereka yang tetap memegang teguh ibadah, ketenangan (sakinah), dan kewibawaan (waqar).