Untuk meredam volatilitas, BI disebut juga menaikkan ambang batas transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan swap dari sebelumnya 5 juta dolar AS menjadi 10 juta dolar AS per transaksi.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa kebijakan ini bertujuan mengurangi tekanan di pasar spot valuta asing sekaligus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.
“Pelemahan yang cukup tajam pada pembukaan hari ini juga mencerminkan reaksi pasar domestik terhadap sentimen global yang berkembang sebelumnya, dimana permintaan dolar AS sudah meningkat,” ungkap Amru.
Pada awal perdagangan, katanya, kondisi likuiditas yang relatif lebih tipis membuat tekanan tersebut lebih mudah mendorong pelemahan rupiah secara signifikan. Aksi jual beli dolar oleh pelaku pasar domestik dan potensi arus keluar modal turut memperbesar tekanan di awal sesi.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah dinilai mencerminkan kombinasi penguatan dolar AS, meningkatnya risiko global, serta keterbatasan ruang kebijakan domestik. Meskipun BI telah memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi valas dan kebijakan DNDF, tekanan jangka pendek disebut masih cukup besar.
“Ke depan, arah rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, arah kebijakan Federal Reserve, serta efektivitas bauran kebijakan domestik dalam menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujar Research and Development ICDX.