Beranda Ekonomi Rupiah Menguat Dipicu Ekspektasi Pelonggaran Kebijakan The Fed

Rupiah Menguat Dipicu Ekspektasi Pelonggaran Kebijakan The Fed

Untuk mendukung stabilitas, BI telah menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebanyak lima kali sejak September 2024 menjadi 4,75 persen.

0
Ilustrasi

JAKARTA (ANTARA) - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (29/1) di Jakarta, seiring dengan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Rupiah dibuka menguat 36 poin atau 0,21 persen menjadi Rp16.732 per dolar AS, dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.768 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh sentimen global, khususnya pelemahan indeks dolar menjelang rapat The Fed.

Meski The Fed diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan mendatang, arah kebijakan ke depan dipastikan akan longgar.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.710- Rp16.770," ujar Rully seperti dikutip Antaranews, Rabu (28/1/2026).

Sebelumnya, The Fed telah memangkas suku bunga secara bertahap sepanjang akhir tahun 2025. Dalam pertemuan pertamanya di tahun 2026, The Fed diprediksi akan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5-3,75 persen.

Selain faktor The Fed, ketidakpastian kebijakan tarif impor AS yang diusung oleh Presiden Donald Trump terhadap sejumlah negara, termasuk Kanada dan Korea Selatan, juga mempengaruhi sentimen pasar dengan memicu aksi pelepasan aset dolar.

Di sisi domestik, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan optimisme bahwa rupiah akan menguat secara fundamental.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here