CARAPANDANG - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus berlanjut. Pada perdagangan Rabu (3/6/2026), rupiah tercatat menyentuh level Rp 17.926 per dolar Amerika Serikat, mendekati level psikologis Rp 18.000.
Pelemahan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Sejumlah analis memperingatkan bahwa jika tekanan berlanjut, rupiah berpotensi mencapai level Rp 19.000 hingga Rp 20.000 per dolar AS.
Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan, mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada kondisi global, terutama kekuatan dolar AS, harga energi, dan arus modal asing ke pasar negara berkembang.
Ia memperkirakan pada kuartal III dan IV-2026, rupiah akan bergerak fluktuatif di kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.500 per dolar AS.
"Namun jika area tersebut tertembus, maka rupiah berpotensi menuju harga psikologis berikutnya pada kisaran Rp 19.000-Rp 20.000 per dolar AS," ujar Brahmantya kepada Kontan, Senin (1/6/2026) lalu.
Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman.
Harga minyak mentah dunia tercatat menguat, dengan WTI di level US$ 94,58 per barel dan Brent crude oil di US$ 96,72 per barel.
Kenaikan harga energi ini berpotensi mempertahankan tekanan inflasi AS, sehingga bank sentral AS (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga sekali lagi pada tahun 2026.