CARAPANDANG - Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menyatakan sektor industri nasional saat ini tengah memasuki fase "survival mode" atau mode bertahan seiring pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh level psikologis Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Bloomberg, Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam, mengungkapkan bahwa dunia usaha sedang menghadapi badai sempurna (perfect storm) yang terdiri dari pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, kenaikan suku bunga, hingga tekanan arus kas akibat restitusi yang tertahan.
"Saat ini kita menghadapi perfect storm, pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, kenaikan suku bunga, cash flow shortage akibat restitusi tertahan dan tekanan karena konsolidasi regional atau global operation yang akan mengurangi operasi di beberapa negara [FDI outflow]," ujar Bob dikutip Bloomberg, Kamis (28/5/2026).
Menurut Bob Azam, situasi yang terjadi saat ini tidak lagi sekadar ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), melainkan sudah memasuki fase di mana perusahaan berusaha bertahan dengan menekan biaya dan meningkatkan efisiensi semaksimal mungkin.
Perusahaan disebut telah berupaya menanggung kenaikan biaya produksi, namun tidak serta merta bisa menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat yang juga melemah.