Menurut Lim, Unit 9420 "membangun seluruh lini produksi bom kuman di Singapura dan wilayah yang sekarang menjadi Malaysia." Sayuran dibudidayakan untuk menjadi pakan tikus. Tikus-tikus tersebut diternakkan untuk menghasilkan kutu. Kutu-kutu itu kemudian diinfeksi dengan bakteri penyebab penyakit pes sebelum dimasukkan ke dalam bom kaca dan dikirim ke medan perang.
Bermarkas di Singapura, unit tersebut memiliki cabang di berbagai wilayah yang kini menjadi Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Myanmar.
"Militer Jepang datang ke Asia Tenggara karena iklimnya ideal," ujar Lim. Para peneliti Jepang menyimpulkan bahwa kutu berkembang biak paling efektif pada suhu antara 27 hingga 30 derajat Celsius serta tingkat kelembapan sekitar 90 persen.
Banyak dari temuan-temuan ini dimuat dalam buku "Oka 9420 Unit, Japanese South Army BW Troop," yang ditulis Lim bersama cendekiawan China Wang Xuan dan dipublikasikan pada 2025.
Namun, bukti-bukti baru terus bermunculan.
Salah satu yang paling signifikan adalah kesaksian yang baru-baru ini diungkap dan tersimpan di Arsip Nasional Inggris dari seorang mantan tawanan perang yang diidentifikasi sebagai W. B. Williams, yang mungkin dapat memberikan petunjuk baru bahwa tawanan Inggris juga menjadi subjek eksperimen manusia.