Penutupan ini bertepatan dengan meluasnya perang melawan Iran, yang menyebabkan ribuan warga Palestina yang membutuhkan perawatan medis mendesak kini terhambat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengonfirmasi bahwa otoritas Israel telah menghentikan semua pergerakan kemanusiaan di Gaza.
Akibat blokade total ini, mitra kemanusiaan terpaksa menjatah bahan bakar, memprioritaskan operasi penyelamatan hidup dengan kapasitas yang berkurang.
Layanan dasar seperti pengumpulan sampah terhenti, dan produksi air bersih menurun drastis, membuat warga hanya mendapatkan akses air minum serendah dua liter per orang per hari di beberapa wilayah.
Meskipun penyeberangan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) dilaporkan kembali dibuka secara terbatas untuk bantuan kemanusiaan, PBB menegaskan bahwa aliran pasokan harus stabil dan dapat diprediksi.
Bantuan yang masuk saat ini masih jauh dari cukup untuk mengatasi kebutuhan lebih dari dua juta penduduk yang hampir seluruhnya mengungsi.
Bahan-bahan penting seperti kayu dan semen untuk perbaikan tempat tinggal masih dilarang masuk, membuat warga yang rumahnya hancur terpaksa bertahan di lokasi pengungsian yang rentan banjir.
Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa sejak gencatan senjata diberlakukan, 640 warga Palestina telah tewas dan sedikitnya 1.700 lainnya terluka di Gaza.