CARAPANDANG - Pada tahun 1962, wilayah Tanganyika (kini bagian dari Tanzania) pernah mengalami peristiwa unik dalam sejarah medis dunia yang dikenal sebagai “Epidemi Tawa” atau Tanganyika laughter epidemic.
Peristiwa ini menyebabkan ratusan orang tertular gejala tertawa tanpa henti hingga mengganggu aktivitas sekolah dan kehidupan masyarakat.
Peristiwa tersebut pertama kali tercatat pada 30 Januari 1962 di sebuah sekolah berasrama perempuan di Kashasha, dekat Danau Victoria. Menurut laporan penelitian medis yang diterbitkan dalam jurnal Central African Journal of Medicine (1963) oleh dokter A. M. Rankin dan P. H. Philip, wabah ini bermula dari tiga siswi yang tiba-tiba mengalami serangan tertawa yang tidak terkendali.
Tawa tersebut tidak berlangsung singkat. Para siswa yang terinfeksi bisa tertawa selama beberapa menit hingga berjam-jam, bahkan disertai tangisan, kegelisahan, dan kelelahan. Dalam waktu singkat, gejala itu menyebar kepada siswa lain di sekolah.
Penelitian mencatat bahwa sekitar 95 dari 159 siswa di sekolah tersebut akhirnya mengalami gejala yang sama. Kondisi ini membuat kegiatan belajar mengajar tidak dapat berlangsung normal hingga pihak sekolah memutuskan menutup sekolah pada Maret 1962.