Beranda Kesehatan Studi Global Ungkap Strategi Jitu Mengelola Emosi Negatif

Studi Global Ungkap Strategi Jitu Mengelola Emosi Negatif

Studi terhadap dua rumah sakit anak di Shanghai menemukan bahwa 95,89 persen anak-anak dan 97,75 persen orang tua mendukung intervensi seni di fasilitas kesehatan.

0
Ilustrasi

"Hasil ini menyoroti betapa pentingnya menanamkan keyakinan pada individu bahwa mereka mampu melewati badai emosi. Bukan berarti emosi negatifnya hilang, tetapi mereka percaya bisa mengelolanya," tulis para peneliti dalam laporan mereka.

Di Inggris, manifesto berjudul Thriving Sustainably on Planet Earth yang diterbitkan Cambridge University Press pada Januari 2026 memperkenalkan pendekatan emotion coaching sebagai tameng utama melawan stres toksik.

Ditulis oleh praktisi kesehatan masyarakat Dr. Sarah Temple bersama peneliti pascadoktoral Oxford University Isabelle Butcher, manifesto ini menekankan bahwa hubungan yang responsif secara emosional dapat mengubah lintasan kesehatan anak seumur hidup.

Manifesto tersebut membedakan tiga tingkat respons stres: positif (normal dan diperlukan), tolerabel (serius tetapi dapat diatasi dengan dukungan), dan toksik (aktivasi sistem stres berkepanjangan tanpa kehadiran figur pelindung).

Emotion coaching yang ditandai dengan frasa seperti "tidak apa-apa merasa seperti itu" atau "pasti berat ketika kehilangan sesuatu", terbukti meredam respons stres tolerabel agar tidak berubah menjadi toksik.

Sebaliknya, kalimat seperti "sudahlah, jangan nangis" atau "harus ceria dong" justru masuk kategori emotion-dismissing yang memperburuk regulasi emosi anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here