CARAPANDANG - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah berlangsung tujuh minggu. Sampai saat ini, Iran masih terlihat kuat dan sulit untuk ditaklukan oleh AS.
Kesulitan AS dalam menguasai Iran membuat Presiden Donald Trump semakin terpojok. Sebab, konflik terbuka antara kedua negara itu membuat kondisi ekonomi AS semakin tertekan.
Meski Iran telah membuka kembali Selat Hormuz, dampak perang telanjur meluas. Harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan kekhawatiran terhadap resesi global mulai mencuat.
Kondisi seperti ini mendorong Donald Trump untuk mulai menggeser pendekatannya dari jalur militer ke diplomasi, seiring tekanan ekonomi dalam negeri yang semakin sulit diabaikan.
Sejumlah pengamat menilai Iran berhasil memanfaatkan kondisi tersebut untuk menekan balik AS.
Seperti disampaikan oleh Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri di era Barack Obama bahwa tekanan ekonomi AS akibat perang ini menjadi titik lemah utama Trump.