Umar bin Abdul Aziz naik takhta pada tahun 99 Hijriah, menggantikan sepupunya, Sulaiman bin Abdul Malik. Ia memimpin hanya sekitar 2 tahun 5 bulan (beberapa riwayat menyebut 30 bulan), hingga wafatnya pada tahun 101 Hijriah di usia yang sangat muda, yakni 39 tahun.
Imam As-Suyuthi dalam “Tarikh Khulafa” mencatat momentum pelantikannya. Saat itu, Umar berkata dengan gemetar di atas mimbar, “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah dibebani urusan ini tanpa diminta pendapatku dan tanpa musyawarah dari kaum muslimin. Maka, lepaskanlah baiat yang ada di leher kalian untukku, dan pilihlah untuk kalian sendiri siapa yang kalian kehendaki.” Namun, rakyat serentak menjawab, “Kami telah memilihmu!”
Integritas Tanpa Batas
Keberhasilan ekonomi Umar bin Abdul Aziz tidak dimulai dari angka-angka statistik, melainkan dari meja makan dan ruang tamu pribadinya. Ia memahami bahwa reformasi ekonomi harus dimulai dengan pemberantasan korupsi di lingkaran terdalam kekuasaan.
Salah satu kisah paling masyhur yang dicatat oleh Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wa An-Nihayah” adalah tentang kehati-hatian Umar terhadap fasilitas negara.