CARAPANDANG - Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) menyatakan bahwa upaya pembersihan reruntuhan di Jalur Gaza dengan kapasitas saat ini akan memakan waktu hingga tujuh tahun. Pernyataan ini disampaikan menyusul kunjangan Kepala UNDP Alexander De Croo ke wilayah kantong Palestina tersebut, di mana ia menggambarkan situasi kemanusiaan sebagai yang terburuk yang pernah ia saksikan.
Dalam pengarahan virtual dari Yerusalem pada Selasa (17/2), De Croo mengungkapkan bahwa baru sekitar 0,5 persen dari total puing yang berhasil dibersihkan.
Ia menekankan perlunya peningkatan wewenang dan kapasitas untuk mempercepat proses pembersihan serta daur ulang material reruntuhan.
"Ini adalah kondisi kehidupan terburuk yang pernah saya lihat, kondisi yang sangat menyakitkan untuk dijalani," ujar De Croo mengutip Antaranews.
Ia menambahkan bahwa sebanyak 90 persen warga Gaza saat ini hidup di tengah tumpukan reruntuhan yang sangat berbahaya bagi keselamatan mereka.
Selain masalah puing, UNDP juga menyoroti krisis tempat tinggal. De Croo menjelaskan bahwa 90 persen populasi tinggal di tenda-tenda darurat yang sangat sederhana.
UNDP sejauh ini telah membangun 500 unit hunian pemulihan dan memiliki 4.000 unit siap pakai. Namun, kebutuhan aktual jauh lebih besar, yakni antara 200.000 hingga 300.000 unit untuk memberikan kehidupan yang layak bagi warga.