“Kita ingin teknologi ini benar-benar diterapkan oleh petani sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan mereka ikut terangkat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Solok, Chandra; Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman; Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Solok, Deslirizaldi; Kepala BRMP Sumbar, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta masyarakat setempat.
Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman menjelaskan PM-AAS merupakan program pertanian modern yang digagas Menteri Pertanian untuk meningkatkan produktivitas lahan melalui mekanisasi dan penerapan budidaya dan mekanisme tanam benih yang lebih presisi.
Berbeda dengan pola konvensional yang menggunakan bibit hasil persemaian, pada sistem PM-AAS benih ditanam langsung menggunakan alat tanam khusus. Metode tersebut membuat proses tanam lebih cepat, efisien, mengurangi kebutuhan tenaga kerja, serta memungkinkan pengaturan populasi tanaman secara lebih optimal.
Menurut Afniwirman, kebutuhan benih dalam sistem PM-AAS memang lebih tinggi, yakni sekitar 70–80 kilogram per hektare dibandingkan pola konvensional yang rata-rata sekitar 25 kilogram per hektare. Kebutuhan pupuk juga disesuaikan untuk mendukung populasi tanaman yang lebih rapat sehingga potensi hasil panen dapat meningkat secara signifikan.