“Dengan sistem ini produktivitas ditargetkan mencapai sekitar 10 hingga 12 ton gabah per hektare. Kalau luas lahan sawah semakin terbatas, maka yang harus kita lakukan adalah meningkatkan produktivitas dari setiap hektare lahan yang ada,” ujarnya.
Ia menambahkan, penanaman di Nagari Salayo merupakan penerapan perdana PM-AAS di Sumbar setelah sebelumnya masih berada pada tahap uji coba.
“Hari ini merupakan penanaman pertama PM-AAS di Sumatera Barat. Sebelumnya baru tahap uji coba,” katanya.
Untuk mempercepat implementasi program tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pendampingan di lapangan. Setiap penyuluh ditargetkan mendampingi penerapan PM-AAS pada lahan sekitar 50 hektare sehingga teknologi budidaya modern dapat diterapkan secara benar sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Dengan jumlah penyuluh pertanian di Sumbar yang mencapai lebih dari seribu orang, potensi pendampingan diperkirakan mampu menjangkau sekitar 50 ribu hektare lahan pertanian.
Pemprov Sumbar berharap keberhasilan penerapan PM-AAS di Kabupaten Solok dapat menjadi model pengembangan pertanian modern di berbagai sentra produksi padi lainnya. Melalui mekanisasi, penerapan teknologi, serta pendampingan yang berkelanjutan, produktivitas pertanian diharapkan terus meningkat sehingga mampu memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional. (adpsb/bud)