CARAPANDANG - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin (25/5) mengungkapkan bahwa wabah Ebola yang menyebar cepat di Republik Demokratik (RD) Kongo telah menyebabkan 220 kematian suspek Ebola,.
Disebutkan pula bahwa para pejabat kesehatan kesulitan mengimbangi penyebaran epidemi.
Meskipun 101 kasus telah terkonfirmasi dan 10 kematian juga terkonfirmasi akibat Ebola, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan skala sebenarnya jauh lebih besar.
"Kini terdapat lebih dari 900 kasus suspek dan 220 kematian suspek," kata Tedros dalam Rapat Virtual Tingkat Menteri tentang Wabah Ebola Bundibugyo pada Senin (25/5).
Dinyatakan pada 17 Mei sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional, wabah ini juga telah menyebar ke Uganda, yang mencatat lima kasus terkonfirmasi dan satu kematian.
Tedros menyoroti tantangan utama, yaitu keterlambatan dalam mendeteksi wabah membuat tim kesehatan kini harus mengimbangi laju epidemi yang menyebar sangat cepat.
"Kami sedang menyegerakan peningkatan operasi, tetapi saat ini, penyebaran epidemi lebih cepat daripada upaya kami," katanya.
Galur Ebola yang terlibat adalah virus Bundibugyo, yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui.
Wabah galur ini sebelumnya hanya pernah terjadi dua kali, yakni di Uganda pada 2007 dan di RD Kongo pada 2012. WHO merekomendasikan agar dua antibodi monoklonal diprioritaskan untuk uji klinis.