Asap tebal tampak membubung dari sejumlah bangunan menyusul serangan udara yang dilancarkan Israel di Haret Hreik, Beirut selatan, Lebanon, pada 4 Maret 2026. (Xinhua/Bilal Jawich)
Serangan militer besar-besaran terhadap Iran yang diluncurkan akhir pekan lalu menandai perubahan haluan drastis menuju kebijakan luar negeri yang hawkish.
Langkah ini mengesampingkan kekhawatiran dari Partai Demokrat yang menilai kampanye militer tersebut ilegal dan berisiko menyeret Amerika ke dalam konflik berkepanjangan.
Jumlah korban tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Iran telah mencapai 1.045 orang, lapor kantor berita Tasnim yang mengutip Iranian Foundation of Martyrs and Veterans Affairs.
Presiden Prabowo Subianto mengirimkan surat duka cita sebagai pernyataan belasungkawa atas wafat Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat-Israel terhadap Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersumpah tidak akan membiarkan serangan AS dan Israel begitu saja dan akan membalas serangan terhadap fasilitas militer dan sipil.
Menindaklanjuti hal tersebut dirinya pun menginstruksikan Duta Besar RI di Teheran untuk segera mengambil langkah konkret apabila terdapat WNI yang ingin dievakuasi.