CARAPANDANG - Wakil konsultan endokrinologi di Rumah Sakit Sir HN Reliance, India Dr. Rashi Agarwal menyoroti bahwa panas ekstrem dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.
“Meningkatnya suhu bukan hanya tidak nyaman, tetapi juga dapat secara signifikan mengganggu keseimbangan hormonal, terutama di negara seperti India, di mana paparan panas yang berkepanjangan semakin umum terjadi,” kata Agarwal dalam siaran Hindustan Times, Sabtu (2/5).
Agarwal mengatakan tubuh manusia menjaga keseimbangan internal yang rumit melalui hipotalamus, regulator yang sensitif terhadap suhu yang juga mengontrol berbagai jalur hormonal. Ketika terpapar panas ekstrem, sistem ini tertekan, yang menyebabkan efek hormonal selanjutnya.
Salah satu perubahan yang paling terlihat akibat panas ekstrem terlihat pada kortisol, hormon stres.
“Paparan panas yang terus-menerus dapat meningkatkan kadar kortisol, yang berkontribusi pada kelelahan, iritabilitas, kualitas tidur yang buruk, dan bahkan peningkatan lemak perut dari waktu ke waktu,” ucap dia.
Bersamaan dengan itu, ia mencatat bahwa dehidrasi dan stres panas dapat mengganggu fungsi tiroid, memperlambat metabolisme dan menyebabkan gejala seperti lesu dan penurunan konsentrasi.
Selain itu, panas juga mempengaruhi sensitivitas insulin, sehingga orang dengan pradiabetes atau diabetes mungkin mengalami fluktuasi kadar glukosa karena dehidrasi dan perubahan kerja insulin.