“APBN adalah alat perjuangan kita sebagai bangsa. APBN adalah alat untuk melindungi rakyat, memperkokoh dasar ekonomi bangsa, dan memastikan setiap warga negara hidup lebih sejahtera,” katanya.
Dalam kerangka tersebut, pemerintah menetapkan sejumlah asumsi dasar ekonomi makro sebagai acuan penyusunan APBN 2027. Selain pertumbuhan ekonomi 5,8–6,5 persen, inflasi diperkirakan berada pada kisaran 1,5–3,5 persen dengan nilai tukar rupiah Rp16.800–17.500 per dolar Amerika Serikat.
Pemerintah juga memperkirakan suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di level 6,5–7,3 persen. Sementara harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) dipatok pada kisaran USD70–95 per barel.
Di sektor energi, lifting minyak mentah ditargetkan mencapai 602–615 ribu barel per hari, sedangkan lifting gas bumi diproyeksikan sebesar 934–977 ribu barel setara minyak per hari.
Adapun postur APBN 2027 dirancang dengan pendapatan negara sebesar 11,82–12,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara belanja negara berada pada kisaran 13,62–14,80 persen PDB. Defisit anggaran dipatok tetap terkendali di level 1,80–2,40 persen PDB.
Tidak hanya mengejar pertumbuhan, pemerintah juga menargetkan berbagai indikator kesejahteraan masyarakat mengalami perbaikan pada 2027. Tingkat kemiskinan ditargetkan turun menjadi 6,0–6,5 persen, sedangkan tingkat pengangguran terbuka ditekan hingga 4,30–4,87 persen.