Pertama, kodrat alam mengingatkan kita bahwa pendidikan harus berpijak pada realitas hidup peserta didik. Namun, praktik pendidikan kita masih sering terjebak pada pendekatan seragam. Data berbagai asesmen nasional (Statistik Pendidikan Indonesia 2025) menunjukkan kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah masih tinggi.
Di banyak daerah, siswa belajar dari buku yang jauh dari konteks hidup mereka. Ironisnya, di tengah krisis lingkungan global, pendidikan kita belum sungguh-sungguh membangun kesadaran ekologis. Kita mendidik anak untuk lulus ujian, tetapi gagal menyiapkan mereka untuk merawat bumi.
Kedua, kemerdekaan sebagai inti pendidikan sering direduksi menjadi jargon administratif. Program “Merdeka Belajar” memang membuka ruang inovasi, tetapi di lapangan, budaya takut salah, tekanan ujian, dan orientasi nilai masih kuat.
Data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Rapor Pendidikan Indonesia 2025) menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih belajar untuk mengejar nilai, bukan memahami makna. Dalam situasi ini, kemerdekaan menjadi ilusi: siswa tampak bebas, tetapi tetap terikat pada sistem yang menilai mereka secara sempit.