Menurutnya, ruas tol tersebut akan melintasi kawasan dengan topografi ekstrem, hutan lindung, serta sejumlah titik yang membutuhkan teknologi konstruksi tingkat tinggi, termasuk pembangunan dua terowongan dengan total panjang sekitar 5,85 kilometer.
“Kami berharap Sumatera Barat tidak hanya menjadi lokasi pembangunan infrastruktur strategis nasional, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendukung pembangunan Indonesia secara berkelanjutan,” katanya.
Mahyeldi menambahkan, pembangunan terowongan bukanlah hal baru di Sumbar. Sejarah pembangunan jalur kereta api dan berbagai infrastruktur lainnya di daerah ini telah mengenal teknologi terowongan sejak lama, bahkan sejak zaman penjajahan dulu. Karena itu, kehadiran PUSTROIB menjadi upaya memperkuat sekaligus memodernisasi kompetensi yang telah dimiliki daerah.
Ia juga mendorong agar PUSTROIB berkembang menjadi pusat unggulan nasional yang mampu mempertemukan dunia akademik, industri, pemerintah, hingga para pakar internasional dalam satu ekosistem kolaboratif.
“Kehadiran Pusat Studi Terowongan di Universitas Andalas sangat tepat. Ini menjadi langkah awal yang baik untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan sekaligus mewujudkan berbagai rencana besar pembangunan Sumatera Barat ke depan,” ujarnya.