“Jika ruas tol ini tersambung, perputaran ekonomi akan meningkat signifikan. Ini bukan hanya untuk Sumatera Barat, tetapi akan menjadi motor penggerak ekonomi Pulau Sumatera,” ujarnya.
Denny menjelaskan, salah satu tantangan terbesar pembangunan ruas Sicincin–Bukittinggi terletak pada aspek teknologi konstruksi. Karena itu, keberadaan PUSTROIB menjadi sangat penting dalam mendukung pengembangan keahlian, riset, dan inovasi di bidang konstruksi terowongan.
“Pusat Studi Terowongan ini menjadi yang pertama di Indonesia. Kehadirannya sangat penting karena pada ruas Sicincin–Bukittinggi akan dibangun terowongan sepanjang sekitar 5,8 kilometer yang menjadi salah satu terpanjang di Indonesia,” katanya.
Ia optimistis proyek tersebut tidak hanya menghadirkan manfaat ekonomi, tetapi juga membuka potensi wisata baru karena melintasi kawasan perbukitan dengan panorama alam yang memiliki daya tarik tinggi.
Pada kesempatan yang sama, Universitas Andalas dan PT Hutama Karya juga menandatangani Nota Kesepahaman tentang Tridarma Perguruan Tinggi, Pengembangan Sumber Daya Manusia, Inovasi dan Bisnis, serta pendirian PUSTROIB. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Rektor Universitas Andalas, Efa Yonnedi, dan Direktur Human Capital dan Legal PT Hutama Karya, Muhammad Fauzan.