Dalam penjelasanya dia menekankan pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur strategis energi dunia. Selat tersebut menjadi penghubung utama negara-negara produsen energi di kawasan Teluk dengan pasar internasional.
"Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat memicu dampak ekonomi global yang sangat luas," ujarnya.
Dia menjelaskan sekitar 20 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz atau setara sekitar 20 persen konsumsi petroleum liquids dunia. Selain itu, sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) global juga bergantung pada jalur tersebut.
Karena itu, Politisi PDI Pejuangan ini mengingatkan bahwa potensi gangguan di Selat Hormuz bukanlah persoalan yang jauh dari kepentingan Indonesia. Ketergantungan terhadap pasokan energi dari Timur Tengah membuat stabilitas kawasan tersebut memiliki pengaruh langsung terhadap ketahanan energi nasional.
"Bagi Indonesia, krisis ini bukan isu yang jauh. Gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi stabilitas ekonomi nasional, mulai dari nilai tukar rupiah, inflasi, subsidi energi, logistik, pangan hingga kondisi fiskal negara," ujarnya.