Beranda Perspektif Aturan Tidak Bisa Tunduk pada Kekuasaan Hegemonik

Aturan Tidak Bisa Tunduk pada Kekuasaan Hegemonik

Romelu Lukaku (pertama dari kiri) dari Belgia mencetak gol melalui sebuah tendangan dalam pertandingan babak 16 besar antara Amerika Serikat (AS) melawan Belgia di ajang Piala Dunia FIFA 2026 di Seattle Stadium di Seattle, AS, pada 6 Juli 2026. (Carapandang/Xinhua/Xu Chang)

0
Xinhua

Wasit Raphael Claus (depan) mengeluarkan kartu merah untuk Folarin Balogun dari Amerika Serikat (AS) dalam pertandingan babak 32 besar antara AS melawan Bosnia dan Herzegovina di ajang Piala Dunia FIFA 2026 di San Francisco Bay Area Stadium di San Francisco, AS, pada 1 Juli 2026. (Carapandang/Xinhua/Cao Can)

   Dengan melumpuhkan mekanisme penyelesaian sengketa Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sembari menuduh pihak lain melakukan pelanggaran perdagangan, serta dengan memberlakukan tarif sepihak dan sanksi ekstrateritorial di luar kerangka kerja multilateral, Washington telah berulang kali menunjukkan bahwa aturan diterapkan secara selektif, bukan secara universal.

   Tatanan dunia tidak akan dapat bertahan jika negara-negara kuat merasa memiliki hak untuk membengkokkan atau mengabaikan aturan sesuka hati. Kredibilitas suatu sistem tidak bergantung pada pengaruh anggota terkuatnya, melainkan pada penerapan prinsip-prinsipnya secara tidak memihak bagi semua pihak.

   Peraturan hanya memiliki makna jika ditegakkan dengan adil. Ketika pengecualian menjadi hak istimewa bagi aktor-aktor hegemonik, kerangka kerja tersebut berhenti berfungsi sebagai tatanan berbasis aturan, melainkan kembali menjadi sistem yang ditentukan oleh kekuatan semata.

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here