CARAPANDANG - Menyusul serangan militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada akhir pekan ini, harga minyak mentah dunia diprediksi akan melonjak tajam saat perdagangan dibuka Senin (2/3/2026).
Konflik yang meningkat pesat ini memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan dari kawasan Teluk, khususnya jika jalur strategis Selat Hormuz ikut terseret.
Pada Jumat (27/2/2026) waktu setempat, harga minyak acuan global, Brent, telah mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 2,87% menjadi US$72,87 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 2,78% ke level US$67,02 per barel, didorong oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah.
Serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026) itu kemudian memicu aksi balasan Iran terhadap sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Kuwait.
Para analis memperingatkan bahwa dampak terburuk akan terjadi jika konflik melibatkan Selat Hormuz.
Jalur air ini merupakan titik krusial bagi perdagangan energi global, karena dilalui oleh sekitar 20 juta barel minyak per hari atau setara dengan 20% dari pasokan dunia .
"Selat Hormuz adalah titik cekik ekonomi dunia," ujar Rahma Gafmi, Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga, seperti dikutip Republika.
Ia menambahkan bahwa sejarah menunjukkan gangguan di jalur ini, seperti pada era "Perang Tanker" 1980-an, selalu mendorong lonjakan harga minyak.