CARAPANDANG - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menyatakan bencana hidrometeorologi basah mendominasi kejadian bencana di Indonesia sepanjang tahun 2025. Jenis bencana tersebut meliputi banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.
Menurut laporan Kumparan, data yang disampaikan Suharyanto dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (3/2), menunjukkan dampak yang serius.
Dari total 2.009 kali kejadian bencana hidrometeorologi basah, tercatat 1.353 orang meninggal dunia dan 183 orang dinyatakan hilang.
"Selain banjir dan banjir bandang, bencana longsor juga perlu mendapatkan perhatian serius," tegas Suharyanto.
Ia mengungkapkan bahwa korban jiwa akibat tanah longsor terhitung signifikan, dengan 237 orang meninggal dan 31 hilang. Menurutnya, hal ini menjadikan ancaman longsor sebagai prioritas yang harus diwaspadai ke depan.
"Ke depan mungkin menghadapi bencana longsor ini juga menjadi prioritas yang harus kita perhatikan bersama," ujarnya.
Pernyataan ini disampaikan menyusul peristiwa terkini tanah longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang menyebabkan puluhan orang tertimbun dan meninggal dunia.
Data tersebut menggarisbawahi tingginya kerentanan dan dampak fatal dari bencana geologi dan hidrometeorologi di berbagai wilayah Indonesia.