Beranda Internasional China Sesalkan Berakhirnya Perjanjian Pengendalian Nuklir AS-Rusia

China Sesalkan Berakhirnya Perjanjian Pengendalian Nuklir AS-Rusia

Pemerintah China menyesalkan berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia, yang dikenal sebagai New START, seraya menegaskan tidak berniat terikat dalam perjanjian sejenis.

0
istimewa

Perjanjian tersebut diperpanjang pada 2021 selama lima tahun lagi setelah Presiden AS Joe Biden menjabat dan Rusia dipimpin Presiden Vladimir Putin dan berakhir pada 4 Februari 2026. Berakhirnya kesepakatan tersebut berarti bahwa Moskow dan Washington akan bebas untuk meningkatkan jumlah rudal dan mengerahkan ratusan hulu ledak strategis lagi, meskipun hal ini menimbulkan tantangan logistik dan akan membutuhkan waktu.

Sebelum perjanjian New START, ada perjanjian START yang ditandatangani pada 1991 oleh AS dan Uni Soviet berisi larangan bagi masing-masing negara penandatangan untuk mengerahkan lebih dari 6.000 hulu ledak nuklir yang berlaku hingga 2009.

Pada Januari 2025, diketahui Rusia memiliki 4.309 hulu ledak nuklir, dan AS memiliki 3.700. Prancis dan Inggris, yang merupakan sekutu AS yang terikat perjanjian, masing-masing memiliki 290 dan 225, sementara China memiliki sekitar 600.

Berakhirnya New START juga dapat mengancam perjanjian nonproliferasi nuklir (NPT) tahun 1970 yang berisi kesepakatan negara-negara tanpa senjata nuklir berjanji untuk tidak memiliki senjata nuklir selama negara-negara pemilik senjata tersebut melakukan upaya dengan itikad baik untuk melucuti senjata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here