CARAPANDANG: Oleh : A Eddy Adriansyah (ex staf Hampshire County Council, UK)
Lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menyajikan drama yang sarat akan pelajaran bagi para investor ritel. Kedatangan PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) di pasar modal awalnya disambut dengan optimisme tinggi. Di bawah bayang-bayang nama besar pesohor papan atas, Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, emiten ini sukses mencuri perhatian publik, saat melakukan Initial Public Offering (IPO) pada 10 Juli 2026 lalu.
Sungguh sayang, gemerlap lampu panggung hiburan itu, gagal mempertahankan kilaunya di atas papan perdagangan saham. Saham RANS mengalami tekanan jual yang hebat, menyisakan pertanyaan besar tentang masa depan bisnis hiburan di pasar modal Indonesia.
Realitas di Papan Bursa : Kejatuhan dari Titik Puncak
Euforia yang melambungkan harga saham RANS pasca-IPO terbukti berumur pendek. Setelah sempat menyentuh level tertinggi (All-Time High) di kisaran Rp 272 hingga Rp 314 per lembar saham pada pertengahan Juli 2026, tekanan jual masif mulai mendominasi pasar. Hingga penutupan perdagangan pada Jumat, 21 Agustus 2026, harga saham RANS meluncur turun dan bertahan di level Rp 200 per lembar. Secara matematis, nilai saham ini telah tergerus sekitar 26,47% hingga 36% dari titik tertinggi, dengan penurunan 15,83% yang terjadi hanya dalam satu bulan terakhir.