CARAPANDANG - Warga Gaza kembali dihadapkan pada lonjakan harga pangan yang signifikan menyusul penutupan jalur perbatasan di tengah meningkatnya ketegangan regional yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi ini memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah yang selama ini bergantung pada bantuan dan pasokan komersial dari luar.
Mengutip laporan Al Jazeera, berdasarkan pantauan di pasar-pasar lokal, harga bahan pokok melonjak hanya dalam hitungan hari, sementara beberapa komoditas dasar mulai langka atau bahkan hilang dari peredaran. Warga berupaya membeli bahan makanan selama persediaan masih ada, didorong kekhawatiran bahwa ketersediaan hari ini mungkin tidak akan ada esok hari.
Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyatakan pada 6 Maret bahwa penutupan perbatasan "dalam konteks eskalasi regional" telah mendorong kenaikan harga barang kebutuhan pokok maupun non-pangan di seluruh wilayah Gaza.
Di pasar tradisional Gaza City, dampak paling terasa pada harga sayuran segar. Harga tomat yang sebulan lalu hanya sekitar 1,5 dolar AS per kilogram, kini mendekati 4 dolar AS.
Mentimun dan kentang juga mengalami kenaikan harga signifikan, menjadikan bahan pangan segar di luar jangkauan banyak keluarga yang pendapatannya telah tergerus akibat perang dan pengungsian berkepanjangan.