Di tengah kehidupan masyarakat hari ini yang semakin pragmatis dan individualistik, ‘Idul Adha menghadirkan nilai yang sangat mulia: berbagi kebahagiaan. Ada jutaan keluarga miskin yang mungkin hanya dapat menikmati daging sekali dalam setahun, yakni saat hari kurban tiba. Maka ketika daging kurban dibagikan, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan hanya rasa kenyang, tetapi juga rasa dihargai sebagai manusia.
Betapa indahnya Islam mengajarkan solidaritas sosial. Ketika sebagian orang menikmati limpahan rezeki, Islam tidak membiarkan kaum dhuafa berdiri sendiri dalam kesedihan hidupnya. Islam memerintahkan agar kebahagiaan tidak dimonopoli oleh kelompok tertentu. Karena itu, kurban sejatinya adalah bentuk nyata redistribusi sosial yang sangat beradab dan penuh kasih sayang.
Namun ironisnya, di negeri yang kaya sumber daya ini, ketimpangan sosial masih terlihat begitu nyata. Gedung-gedung mewah berdiri megah, tetapi banyak rakyat hidup dalam kecemasan ekonomi. Proyek pembangunan terus dipamerkan, tetapi masih banyak masyarakat kecil yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Pertumbuhan ekonomi sering diagungkan, namun keadilan sosial masih terasa jauh dari kenyataan.