Di sinilah ‘Idul Adha menjadi kritik moral terhadap sistem sosial dan ekonomi yang terlalu memuja angka pertumbuhan, tetapi lupa pada pemerataan kesejahteraan. Kurban mengajarkan bahwa kekayaan tidak boleh hanya berputar di kalangan elit dan pemilik modal besar. Harta harus memiliki dimensi sosial, karena di dalam setiap rezeki terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.
Secara ekonomi, momentum kurban juga memiliki dampak yang sangat besar dalam menggerakkan ekonomi umat. Peternak kecil memperoleh penghasilan, pedagang lokal bergerak, tenaga penyembelih mendapatkan pekerjaan, pasar tradisional hidup, dan masyarakat kecil ikut merasakan manfaat ekonomi secara langsung. Kurban sesungguhnya adalah model ekonomi kerakyatan berbasis nilai-nilai spiritual.
Karena itu, sangat disayangkan jika momentum ‘Idul Adha hanya dipahami sebagai seremoni tahunan atau ajang pencitraan sosial. Lebih menyedihkan lagi jika ibadah kurban hanya menjadi konten media sosial untuk mempertontonkan status ekonomi dan popularitas pribadi. Padahal, hakikat kurban justru mengajarkan keikhlasan, kerendahan hati, dan pengorbanan tanpa pamrih.