Kita hidup di zaman ketika kesalehan sering dipamerkan, tetapi kepedulian sosial justru semakin menipis. Masjid semakin megah, namun masih banyak rakyat yang lapar. Ceramah agama semakin ramai, tetapi korupsi, ketidakadilan, dan kerakusan tetap merajalela. Ini menunjukkan bahwa spiritualitas kita sering gagal melahirkan keberanian moral untuk membela kaum lemah.
Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan :
Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri...
Hadis ini menegaskan bahwa iman tidak cukup hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari kepedulian sosial dan rasa cinta kepada sesama manusia.
Maka sesungguhnya, ‘Idul Adha adalah momentum untuk membangun kembali peradaban kasih sayang. Sebuah peradaban yang tidak menjadikan kekayaan sebagai alat kesombongan, tetapi sebagai sarana pengabdian sosial. Sebuah kehidupan yang tidak membiarkan rakyat kecil tersingkir di tengah gemerlap pembangunan.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak manusia yang rela berbagi daripada sekadar pandai berbicara tentang kemiskinan. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang memiliki empati sosial, bukan hanya piawai membuat slogan kesejahteraan. Sebab sejarah telah membuktikan, ketimpangan sosial yang terus dibiarkan pada akhirnya akan melahirkan kemarahan sosial dan krisis kemanusiaan.