Panduan yang kedua adalah mencukupi kebutuhan serat. Kita bisa menambahkan konsumsi buah potong atau pecel sayur sebagai pelengkap hidangan, imbuhnya.
"Yang ketiga, batasi cocolan tinggi kalori. Hindari penggunaan saus kemasan atau mayones secara berlebihan yang justru merusak esensi sehat dari makanan kukus-rebus," kata Milda.
Panduan yang terakhir menurut Milda adalah harus selektif dan higienis. Untuk menghindari risiko gangguan pencernaan atau keracunan, kita harus memperhatikan kebersihan tempat berjualan dan kesegaran makanan.
MENUJU POLA HIDUP SEHAT BERKELANJUTAN
Salah satu alasan utama mengapa orang menyerah di tengah jalan saat mengonsumsi makanan rebusan adalah rasanya yang cenderung hambar. Milda menyarankan pemanfaatan rempah-rempah alami seperti bawang putih, bawang merah, jahe, kemiri, lada, ketumbar, daun jeruk, dan daun salam.
Selain mendongkrak cita rasa, rempah tersebut kaya akan antioksidan. Penggunaan garam dan kaldu bubuk pun diperbolehkan, asalkan ditaburkan setelah masakan matang agar rasanya lebih pekat dan kuantitasnya bisa ditekan.
Bagi penderita diabetes yang kerap memanfaatkan umbi rebusan karena indeks glikemik (GI) yang lebih bersahabat, Milda mengingatkan untuk tetap memperhatikan beban glikemik (glycemic load) atau porsi yang dikonsumsi agar tidak memicu lonjakan gula darah.