Beranda Feature Memulai Hari Tanpa Gorengan, Makanan Kukus-Rebus Kian Diminati

Memulai Hari Tanpa Gorengan, Makanan Kukus-Rebus Kian Diminati

Foto menunjukkan lapak makanan kukus dan rebus yang ada di sebuah stasiun kereta rel listrik (KRL) di Jakarta pada 19 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Ferdi)

0
Xinhua

   Melihat fenomena mengurangi konsumsi gorengan dan makanan berminyak pada pagi hari yang kian populer, freelance nutritionist Milda Hasna, S.Gz. (25) memberikan catatan penting. Dia memandang tren ini sebagai sinyal positif meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap makanan rendah kalori dan rendah lemak jenuh. Namun, dirinya mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam rasa bersalah berlebih atau menghindari minyak secara ekstrem.

Foto dokumentasi pribadi menunjukkan Milda Hasna, S.Gz., seorang ahli gizi lepas, di Jakarta pada 21 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Istimewa)

   "Secara ilmu gizi, asupan lemak tetap harus dipenuhi oleh setiap individu. Mengurangi asupan lemak secara berlebihan tanpa perhitungan justru merugikan tubuh," jelas Milda dalam wawancara dengan Xinhua pada Minggu (21/6). Dampak jangka panjang dari eliminasi lemak secara total meliputi gangguan penyerapan vitamin larut lemak (vitamin A, D, E, K), ketidakseimbangan produksi hormon, hingga kekurangan energi kronis yang dapat mengganggu metabolisme tubuh.

   Menurut Milda, ada empat panduan penting untuk memulai tren makanan kukus dan rebus ini. "Yang pertama, perhatikan variasi makanan. Mayoritas menu rebusan di pasaran didominasi karbohidrat, seperti ubi, singkong, jagung, kentang. Penting untuk menambahkan sumber protein seperti telur rebus, tahu, tempe, atau kacang kedelai rebus agar sarapan menjadi seimbang," paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here