Mendagri juga meminta pemerintah desa turut berperan aktif melakukan upaya pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak terjadi serta dapat segera ditangani apabila muncul titik api.
"Libatkan pula para kepala desa untuk melakukan pencegahan agar tidak terjadi kebakaran dan jika muncul (kebakaran) dapat segera ditangani," tuturnya.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa El Nino berbeda dengan musim kemarau.
Musim kemarau tetap berlangsung seperti biasa hingga Oktober, sedangkan El Nino merupakan fenomena iklim global yang terjadi setiap 3-7 tahun dan dapat berlangsung hingga 9-12 bulan.
"Nah yang perlu kita waspadai adalah ketika fenomena El Nino ini terjadi bersamaan dengan musim kemarau, ini akan membuat hujan akan lebih sedikit seperti yang kita alami pada tahun ini," terang dia.
Sementara itu, Kepala BNPB Suharyanto mengungkapkan bahwa kebakaran akibat El Nino sudah terjadi di lima provinsi yaitu Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
"Kita sudah melaksanakan operasi pemadaman api kebakaran hutan dan lahan, tetapi sampai dengan Juni ya, akhir Juni ini, semuanya relatif terkendali. Memang prediksi dari BMKG, El Nino ini akan mulai di Juli," ungkap Suharyanto.