CARAPANDANG.COM, KAIRO -- Amerika Serikat (AS) dan Israel meningkatkan operasi militer mereka terhadap Iran pada 28 Februari dengan gelombang serangan udara besar-besaran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, sejumlah komandan militer senior, dan ratusan warga sipil.
Sejak saat itu, Iran merespons dengan rangkaian gelombang serangan balasan menggunakan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan aset-aset AS di Timur Tengah. Kelompok Hizbullah di Lebanon juga ikut terlibat, meluncurkan rentetan rudal dan drone milik mereka ke wilayah Israel.
Saat baku tembak berlanjut, sirene serangan udara dan ledakan keras dari pencegatan rudal berulang kali menggema di berbagai kota di Israel, membuat jutaan warga bergegas menuju tempat perlindungan bom.
Foto yang diabadikan pada 6 Maret 2026 ini menunjukkan lokasi serangan Iran di Tel Aviv, Israel. (Xinhua/JINI/Gideon Markowicz)
Orang-orang turun untuk berlindung di sebuah tempat parkir bawah tanah saat sirene serangan udara berbunyi di Tel Aviv, Israel, pada 4 Maret 2026. (Xinhua/JINI/Gideon Markowicz)
Orang-orang bermalam di peron sebuah stasiun metro di Tel Aviv, Israel, pada 2 Maret 2026. (Xinhua/Chen Junqing)
Personel keamanan Israel beroperasi di sebuah rumah yang terdampak serangan di Moshav Kfar Yuval, Israel utara, dekat perbatasan dengan Lebanon selatan, pada 3 Maret 2026. (Xinhua/JINI/Ayal Margolin)