CARAPANDANG – Pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga menilai pernyataan yang disampaikan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, terkait kondisi ketahanan energi nasional, khususnya stok Bahan Bakar Minyak (BBM) perlu ditinjau ulang secara cermat.
Dan dia pun mengingatkan agar Presiden Prabowo Subianto untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyikapi klaim tersebut. Terlebih, Indonesia hingga saat ini belum mampu mencapai swasembada energi, terutama untuk kebutuhan BBM.
“Suka tidak suka, sebagian BBM Indonesia hasil dari impor. Dengan tersendatnya BBM dari Timur Tengah, tentu wajar bila anak bangsa khawatir akan terpenuhinya BBM dalam negeri,” katanya seperti dilansir RMOL, Sabtu, 28 Maret 2026.
Dia mengatakan kekhawatiran publik semakin beralasan setelah muncul laporan bahwa kapal Pertamina yang mengangkut BBM dari kawasan Timur Tengah masih tertahan dan belum dapat melanjutkan perjalanan ke Indonesia.
“Karena itu perlu disikapi lebih kritis bila Bahlil masih menyatakan energi di tanah air masih aman,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini juga sejalan dengan mulai goyahnya ketahanan energi di sejumlah negara. Bahkan, Filipina disebut telah menyatakan mengalami krisis energi.