Sejak awal berdirinya, museum ini memiliki visi untuk menyediakan akses koleksi global yang luas bagi siapa saja yang ingin belajar. Konsep museum publik ini kemudian menjadi inspirasi bagi banyak negara lain dalam mendirikan institusi serupa untuk menjaga memori kolektif manusia secara terbuka. Hingga saat ini, statusnya sebagai salah satu museum seni dan sejarah paling banyak dikunjungi di dunia tetap bertahan dengan jutaan pengunjung setiap tahunnya.
5. Adanya dilema kepemilikan dan akses budaya gratis
Keberadaan benda-benda sejarah dari peradaban besar di gedung ini memicu diskusi panjang mengenai lokasi ideal penyimpanan artefak tersebut. Masih dari laman Mainly Museums, terdapat perdebatan mengenai hak kepemilikan artefak penting seperti patung Rameses II dan koleksi dari peradaban lain antara London atau negara asalnya. Masalah kepemilikan ini melibatkan pertimbangan antara pelestarian fisik benda sejarah dan aksesibilitas bagi masyarakat luas untuk mempelajarinya.
Meskipun menghadapi tuntutan pengembalian, museum ini tetap mempertahankan kebijakan tanpa biaya masuk bagi seluruh pengunjung yang ingin menambah pengetahuan budaya. Kebijakan akses gratis ini dianggap sebagai upaya museum untuk memfasilitasi keingintahuan publik terhadap sifat manusia dan pencapaian peradaban global secara terbuka.