Berdasarkan data pelacak kapal MarineTraffic per 20-22 Maret, kapal-kapal yang tidak dapat beroperasi tersebut terdiri atas 324 kapasitas curah (bulk carriers), 315 kapal pengangkut produk minyak/kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak bumi, dan 211 kapal tanker minyak mentah.
Kebijakan ini mengubah jalur pelayaran tersibuk dunia menjadi "gerbang tol" de facto di tengah konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah konflik berkecamuk dan ancaman keamanan yang tinggi, selat tersebut tidak sepenuhnya tertutup, melainkan beroperasi secara selektif dengan Iran sebagai aktor kunci yang mengendalikan aksesnya.
Motegi menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi terkini di mana sejumlah kapal yang terkait dengan Jepang dilaporkan terjebak di Teluk Persia akibat eskalasi konflik.
Laksamana Muda Alireza Tangsiri, melalui unggahan di akun resmi X pada Rabu (11/3/2026), menegaskan bahwa dua kapal yang mengabaikan peringatan telah menjadi sasaran di selat tersebut pada hari yang sama.