"Hal tersebut dikarenakan sang individu tidak menganggap tindak-tanduknya sebagai suatu kesalahan, yang diakibatkan kurangnya empati, ketidakpedulian, dan emosi dangkal," lanjutnya.
"Sementara sifat lainnya, impulsive irresponsibility, mencirikan kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan seperti memukul atau menghancurkan sesuatu tanpa terlebih dahulu memikirkan dampaknya."
Kedua ciri sifat tersebut seolah menjawab mengapa kekerasan kerap mewarnai gelaran Piala Dunia di dalam maupun di luar area pertandingan.
"Ada pula teori yang mengaitkannya dengan criminal association, di mana peluang seseorang untuk ikut melakukan kekerasan atau kejahatan akan semakin besar ketika ia berada dalam kelompok yang terdiri dari banyak orang, tutur Buldan.
Bagaimana mencegahnya? Masih dari sudut keilmuan psikologi sosial, menurut Buldan aksi anarkis tersebut perlu diberikan sanksi tegas karena jika dibiarkan akan membuat si pelaku merasa menikmatinya.
"Secara psikologis jika ada tindakan negatif yang tidak mendapat konsekuensi apa pun maka akan mendorong pelaku untuk melakukan hal itu kembali di masa depan, karena mendapat semacam reward dan pembenaran atas tindakan itu," ungkapnya.