CARAPANDANG.COM - Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan Dzulqa’dah adalah berlangsungnya dialog antara Nabi Musa ‘alaihi salam dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Peristiwa ini tercatat di dalam Al-Qur`an surat al-A’raf (7): 142.
“Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya, yaitu Harun, "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan."
Dalam hal waktu 30 malam dan 10 malam sehingga menjadi 40 malam, para ahli tafsir mempunyai pendapat yang sama. Mereka berpendapat bahwa 30 malam merupakan waktu yang digunakan oleh Nabi Musa ‘alaihi salam bermunajat pada bulan Dzulqa’dah, sedangkan 10 malam adalah waktu yang digunakannya bermunajat pada bulan Zulhijjah. Pendapat tersebut merujuk kepada HR Ibnu Abbas yang berkenaan dengan makna “malam yang sepuluh” di dalam Al-Qur’an surat al-Fajr (89): 1-2
“Demi fajar. Dan (demi) malam yang sepuluh.” Dalam hubungannya dengan kedua ayat tersebut Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan
“Yang dimaksud dengan ‘malam yang sepuluh’ adalah sepuluh hari pertama pada bulan Zulhijah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Ibnu az-Zubair, Mujahid, dan lainnya dari kalangan kaum salaf dan khalaf."