Beranda Sejarah Sejarah: Sebelum Preman, Era 80-an Mereka Disebut Gali

Sejarah: Sebelum Preman, Era 80-an Mereka Disebut Gali

Istilah Gali lahir sebagai bahasa pasaran yang melekat pada para pelaku kriminal yang meresahkan masyarakat kota-kota besar, terutama Yogyakarta, Jakarta, Solo, Semarang, dan Surabaya.

0
Tangkapan gambar Potongan dari sebuah koran Kompas (BBC)

Kelompok Gali begitu lekat dalam ingatan publik era 80-an hingga menginspirasi karya seni. Iwan Fals memopulerkan lagu berjudul "Sugali" yang bercerita tentang seorang preman jalanan bernama Sugali, gabungan kata "sugih" (kaya) dan "gali", yang kerap keluar masuk penjara, menjadi buronan polisi, dan kebal peluru.

Lagu ini menggambarkan bagaimana figur Gali menjadi sosok yang ditakuti sekaligus memiliki keabadian dalam bayangan masyarakat awam saat itu.

Maraknya aksi Gali pada awal 1980-an membuat aparat keamanan kewalahan. Masyarakat disebut lebih takut kepada para Gali dibandingkan aparat kepolisian setempat.

Bahkan tak jarang polisi tidak berani bertindak karena pengaruh tokoh Gali yang begitu besar di wilayah kekuasaannya.

Puncaknya, pada Maret 1983, Komandan Kodim 0734 Yogyakarta Letkol M. Hasbi menggelar Operasi Pemberantasan Kejahatan (OPK) yang bekerja sama dengan intelijen dari berbagai matra.

Operasi ini menargetkan para Gali yang masuk daftar hitam untuk dibersihkan.

Operasi penumpasan terhadap Gali ini kemudian menjadi cikal bakal peristiwa kelam Penembakan Misterius (Petrus) yang menewaskan ratusan orang sepanjang 1983-1985 . Menurut catatan, 532 orang tewas pada 1983, 107 pada 1984, dan 74 pada 1985.

Meski istilah Gali kini hampir punah tergantikan oleh kata "preman", jejaknya masih tersisa dalam ingatan kolektif masyarakat yang mengalami era tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here